Kamis, 22 September 2011

Ekosistem Rumput Laut

Rumput laut merupakan merupakan salah satu tumbuhan yang masuk ke dalam divisi Thallophyta (tumbuhan berthallus) yaitu suatu tumbuhan yang akar, batang dan daun yang merupakan bentuk dari batang (thallus). Rumput laut memiliki alat perekat atau penempel yang disebut holdfast. Holdfast bukan merupakan akar seperti yang dimiliki tumbuhan tingkat tinggi yang berfungsi menyerap air atau nutrien. Holdfast hanya berfungsi sebagai alat penempel pada substrat yang keras. Selain itu, rumput laut memiliki jaringan yang sederhana; mereka tidak menghasilkan bunga atau benih seperti yang dimiliki tumbuhan tingkat tinggi (Sverdrup et al., 2000). Menurut Pulido dan Mc Cook (2008) rumput laut dapat diklasifikasikan menjadi 3 divisi berdasarkan kandungan pigmennya yang digunakan dalam proses fotosintesis, yaitu: Chlorophyta (hijau), Phaeophyta (cokelat) dan Rhodophyta (merah)

Tabel 1. Jumlah Spesies dan Sifat Hidup Divisi Alga (Soegiharto et al., 1992)

No

Divisi

Jumlah jenis

Proporsi

Sifat Hidup

1

Chlorophyta

7000

13%

Bentos

2

Crysophyta

-Diatome

-Coccolithophoroid

6.000-1000

96%

Planktonik

200

30-50%

Planktonik

3

Phyrophyta

-Dinoflagellata

1,100

93%

Planktonik

4

Phaeophyta

1,500

99,7%

Bentos

5

Rhodophyta

4,000

98%

Bentos

6

Cyanophyta

7,500

75%

Bentos

2.1.1. Phaeophyta (Rumput Laut Cokelat)

Istilah Phaeophyta berasal dari bahasa yunani “phaios” yang berarti cokelat dan “phyton” tumbuhan: alga cokelat (Pulido dan Mc Cook, 2008). Rumput laut cokelat merupakan salah satu divisi makroalga dari kelas Phaeophceae yang berbentuk menyerupai seperti lembaran, bulat dan menyerupai batang. Thalus dari alga ini berbentuk filamen, bercabang dan berbentuk seperti lembaran daun. Karakteristik lainnya dari rumput laut tersebut adalah dengan bentuk holdfast yang menyerupai cakram yang digunakan untuk menempel pada substrat. Makroalga divisi Phaeophyta (Alga coklat) hidup di pantai, warna coklat karena adanya pigmen fikosantin (coklat), klorofil a, klorofil b dan xantofil. memiliki bentuk thalli lembaran, bulat atau menyerupai batang. Thallus tersebut berwarna coklat, berbentuk filament bercabang dan bentuk seperti lembaran daun (Dawes, 1981).

Keanekaragaman alga cokelat mencapai lebih dari 250 genus dan 1500 spesies (Norton, et al., 1996 dalam Graham dan Wilcox, 2000). Selain itu biomassa dari divisi Phaeophyta sangat besar baik di perairan laut maupun tawar. Bentuk struktur alga ini terdiri dari ukuran filamen mikroskopik hingga ukuran raksasa seperti giant kelp. Kelp raksasa dapat menghasilkan tingkat produktivitas hingga mencapai 1 kg C m-2 yr -1, dengan tingkat pertumbuhan terbesar pada musim dingin. Alga cokelat dapat membentuk biomassa pada daerah intertidal dan subtidal di seluruh dunia. Daerah pantai yang kaya akan kepadatan Phaeophycean berada di negara seperti Jepang, Amerika utara, Australia bagian Selatan, dan Inggris. Selain itu Phaeophycean tumbuh optimal di perairan tropis dan subtropis (Graham dan Wilcox, 2000)

Rumput laut cokelat atau disebut juga dengan Phaeophyta umumnya hidup di air laut, khusunya laut yang agak dingin dan sedang. Biasanya hidup pada perairan sublitoral yaitu alga yang berada di bawah permukaan air dan intertidal yaitu alga secara periodik muncul kepermukaan karena naik turun air akibat pasang surut (Graham dan Wilcox, 2000).

2.1.2. Rumput laut Merah (Rhodophyta)

Istilah Rhodophyta berasal dari bahasa yunani “rhodo” yang berarti cokelat dan “phyton” tumbuhan: alga merah (Pulido dan Mc Cook, 2008). Menurut Romimohtarto dan Juwana (1999) terdapat sebanyak 17 marga dari 34 jenis rumput laut merah di Indonesia Rumput laut dari divisi Rhodophyta atau alga merah memiliki ciri thallus berbentuk silindris, pipih dan lembaran. Thallus tersebut berwarna merah, ungu, pirang, cokelat dan hijau (Toni, 2006). Beragamnya warna yang dihasilkan makroalga ini disebabkan oleh pigmen caroten, fuxoxanthin serta klorofil-a dan c. Dilihat dari bentuknya kelompok rumput laut ini memiliki ukuran dan bentuk yang beragam. Kelompok makroalga merah sebagian besar bersifat epifit, tumbuh di permukaan substrat yang keras seperti batu dan cangkang kerang. Alga merah hidup di daerah intertidal dan sub-tidal perairan yang dalam (Dhargalkar dan Kavlekar, 2004).

Lobban dan Wynne (1981) melaporkan bahwa terdapat sebanyak 4100 spesies dalam 675 genus Rhodophyta atau alga merah di dunia. Namun di Indonesia menurut Romimohtarto dan Juwana (1999) terdapat sebanyak 17 marga dari 34 jenis rumput laut merah di Indonesia. Rhodophyta terbagi menjadi 2 kelas yaitu Florideophyceae dan Bangiophycidae. Menurut Dixon (1973) dalam Lobban dan Wynne (1981) kelas Florideophyceae memiliki 12 famili dimana 3 famili dari kelas ini (8 genus dan 90 spesies) hidup di periran tawar. Selebihnya sebanyak 8 famili dari kelas Florideophyceae hidup di laut. Sementara itu 1 famili, Acrochaetaetiaceae tersebar baik di perairan tawar maupun laut. Kelas Bangiophycidae memiliki 5 ordo, 30 genus dan 110 spesies. Sebagian besar spesies dari kelompok ini hidup di perairan tawar. Rhodophyta umumnya bersifat autotrof, ada juga yang heterotrof, yaitu yang tidak memiliki kromatofora dan biasanya parasit pada ganggang lain. Rumput laut dari jenis ini hidup di perairan yang lebih dalam dibandingkan rumput laut cokelat (Phaeophyta) (Luning, 1990)

2.1.3. Rumput laut hijau (Chlorophyta)

Istilah Rhodophyta berasal dari bahasa yunani “chloro” yang berarti hijau dan “phyton” tumbuhan: alga hijau (Pulido dan Mc Cook, 2008). Rumput laut hijau dikenal sebagai Chlorophyta karena mereka tampak berwarna hijau seperti kebanyakan tumbuhan tingkat tinggi dan bersifat uniseluler maupun multiseluler. Dilihat dari ukurannya, jenis alga hijau ini terdiri dari berukuran mikroskopik dan makroskopik (Dhargalkar dan Kavlekar, 2004). Rumput laut ini memiliki thallus berbentuk membran, filamen, dan tabung (Toni. 2006). Hal ini disebabkan keberadaan klorofil yang terdapat pada alga hijau tersebut.

Rumput laut hijau tersebar luas di lingkungan perairan tepi pantai dan menempal pada substrat di dasar perairan laut, seperti karang mati, pasir, dan pecahan karang. Hidup di air laut, keberadaannya dapat dijumpai di paparan terumbu karang dengan kedalaman 1 – 200 m. Penyebaran rumput laut ini terutama di mintakat litorial bagian atas, khususnya dibelahan bawah dari mintakat pasang surut dan tepat di daerah bawah pasang surut sampai kedalaman 10 meter atau lebih, sehingga beberapa rumput laut dari jenis Chlorophyta mendapat penyinaran matahari yang bagus (Romimohtarto dan Juwana, 2007).

2.2. Morfologi

Bentuk morfologi rumput laut berbeda dengan tumbuhan tingkat tinggi. Rumput laut tidak memiliki, batang, daun akar yang sebenarnya (Romimohtarto dan Juwana, 2005). Beberapa jenis rumput laut yang terlihat memiliki batang, akar, daun seperti tumbuhan tingkat tinggi, namun pada dasarnya mereka adalah thallus. Bentuk thallus yang dimiliki rumput laut beraneka ragam, diantaranya adalah bulat, pipih, gepeng, tabung seperti rambut dan sebagainya. Sedangkan percabangan thallus yaitu dichotomous (dua-dua terus-menerus), pinnate (dua-dua berlawanan sepanjang thallus utama), irregular ( pola cabang tidak beraturan), ferticillate (berpusat melingkar axis atau batang utama) dan terdapat thallus yang tidak bercabang. Sifat substansi thallus juga bervariasi ada yang lunak seperti gelatin (gelatinous), keras yang mengandung zat kapur (calcareous}, lunak seperti tulang rawan (cartilagenous), berserabut (spongeous) dan sebagainya. Seperti tumbuhan darat lainnya, rumput laut memiliki pigmen fotosintesis untuk menghasilkan makanan dengan bantuan cahaya matahari dan nutrien di perairan (Soegiharto et al., 1978).

Gambar 2. Dichotomus Gambar 3. Pinnate Gambar 4. Irregular

2.3. Substrat

Substrat merupakan salah satu komponen terpenting dalam keberadaan dan pertumbuhan jenis rumput laut. Bold (1985) dalam Indrawati, et al. (2009) menyatakan bahwa rumput laut merupakan makrobentos yang tumbuh melekat pada berbagai jenis tipe substrat seperti bervariasi seperti lumpur atau pasir, pada batu-batuan atau karang, dengan kata lain pada kondisi atau tipe substrat yang sesuai suatu jenis rumput laut ditemukan melimpah. Menurut Lunning (1990) substrat yang mengandung kalsium seperti karangmati (dead coral) ditumbuhi oleh beberapa spesies dari kelompok rumput laut merah dan hijau.

Sze membagi jenis substrat perairan pantai menjadi 4 bagian, yaitu:

1. Mud (lumpur), berasal dari aliran (run off) yang berasal dari daratan yang kemudian terendap di dasar perairan. Substrat ini memberikan pengaruh negatif berupa gangguan pernafasan bagi organisme perairan dan memiliki kandungan oksigen terlarut yang rendah

2. Sand (pasir), kandungan pasir tergantung letak geografis suatu daerah. Wilayah perpantai yang memiliki substrat ini memiliki kandungan oksigen terlarut cukup tinggi

3. Rock (batu), areal bebatuan biasanya di tempati oleh berbagai organism, sebagai tempat untuk tumbuh dan berlindung. Cakupan oksigen terlarut dan persediaan nutrient di substrat ini cukup banyak.

4. Piling, habitan buatan berupa kayu dermaga, kapal dan sebagainya.

Rumput laut hidup sebagai fitobentos yaitu dengan cara menancapkan atau melekat pada substrat, pasir, lumpur, karang mati, kayu dan batu. Selain itu, ditemukan juga jenis rumput laut yang bersifat epifitik yaitu melekat pada tanaman lain (Soegiarto et al, 1992). Wilayah sebaran rumput laut tersebar di hampir seluruh perairan laut Indonesia yang memiliki hamparan atau rataan terumbu karang (Anggadiredja et al., 2006). Tumbuhan ini melekat pada substrat seperti batu, karang mati, kerang dan beberapa melekat pada tumbuhan lain (Kannan, 2011).

2.4. Faktor Fisiko-Kimia

2.4.1. Arus

Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horizontal massa air. Arus merupakan salah satu faktor terpenting dalam mempengaruhi kesuburan laut. Arus dapat membawa nutrisi dari suatu perairan ke perairan lainnya. Adanya arus di lautan sangat penting dalam membawa unsur hara atau nutrisi dari satu perairan ke perairan lainnya. Oleh karena itu arus merupakan faktor terpenting dalam mempengaruhi kesuburan daerah suatu perairan laut (Sverdrurp et al., 2004).

Kecepatan arus di suatu perairan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi dan mengontrol pertumbuhan rumput laut. Selain dapat menyediakan nutrien bagi rumput laut, arus juga dapat mengontrol peningkatan suhu air (Radiarta et al, 2007 dalam Tiensongrusmee, 1990). Pengaruh arus cukup besar dalam menghalau sisa-sisa metabolisme atau limbah, percampuran dan penyebaran nutrien serta gas-gas. Oleh karena itu arus dapat dijadikan sebagai indikator tingginya laju produktivitas perairan. Selain itu, kenaikan kecepatan arus meningkatkan proses fotosintesis, tetapi pada level tertentu laju fotosintesis tetap (Supriharyono, 2008). Menurut Mubarak et al., (1990) kecepatan arus yang optimal bagi pertumbuhan rumput laut di suatu perairan pantai adalah berkisar antara 20-40 cm/detik.

2.4.2 Temperatur

Suhu di lautan merupakan faktor lingkungan yang sangat penting bagi kehidupan organisme laut (Hutabarat, 1986). Besar suhu air laut berkisar antara -2 sampai 40oC. Temperatur mempunyai pengaruh yang besar pada makhluk hidup yaitu pada proses pertukaran zat (Soeseno, 1970). Temperatur merupakan faktor penting dalam lingkungan perairan, karena suhu mempunyai pengaruh universal dan sering menjadi faktor pembatas dalam suatu pertumbuhan (Odum, 1971). Menurut Lunning (1990), temperatur optimal untuk pertumbuhan algae di daerah tropis adalah 15ºC – 30ºC. Menurut Van Den Hoek (1982), perubahan temperatur yang ekstrim akan mengakibatkan kematian bagi rumput laut, terganggunya tahap-tahap reproduksi dan terhambatnya pertumbuhan. Selain itu, Kenaikan temperatur yang tinggi mengakibatkan thallus rumput laut menjadi pucat kekuning-kuningan yang menjadikan rumput laut tidak dapat tumbuh dengan baik (Luning. 1990).

2.4.3 Salinitas

Salinitas merupakan nilai total garam-garam terlarut di laut. Nilai rata-rata salinitas perairan laut rata-rata sebesar 35 ppt dan stabil ketika berada di perairan laut terbuka (Sverdrurp et al. 2004). Rumput laut umumnya hidup di laut dengan salinitas antara 30‰-32‰ (Luning, 1990). Namun banyak jenis makroalga mampu hidup pada kisaran salinitas yang besar. Fucus misalnya, mampu hidup pada kisaran salinitas antara 8‰ - 34‰. Salinitas berperan penting dalam kehidupan makroalgae. Salinitas yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menyebabkan gangguan pada proses fisiologis. Menurut Graham dan Wilcox (2000) kenaikan salinitas menyebabkan stress dan percepatan plasmolisis sel rumput laut. Adanya fluktuasi salinitas mempengaruhi dalam pertumbuhan, stabilitas dan bentuk rumput laut (Lunning, 1990). Salinitas juga mempengaruhi penyebaran makroalga di lautan. Rumput laut yang hidup didaerah intertidal memiliki kisaran toleransi yang tinggi terhadap salinitas antara 10-100 ppt, sementara itu pada daerah subtidal dapat hidup pada kisaran salinitas sebesar18-52 ppt (Graham dan Wilcox, 2000).

2.4.4. Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Kehidupan makhluk hidup di dalam air tersebut tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya (Fardiaz, 1992). Konsentrasi oksigen terlarut bervariasi berkisar antara 0-10 ml/L di dalam laut. Kandungan oksigen terlarut lebih dari 2 ppm bagi organisme akuatik yang mendukung pertumbuhannya (Pescod,1973) sedangkan (Larger (1962), menyatakan bahwa kadar oksigen yang baik untuk kehidupan organisme air berkisar 4-12 ppm